0

Kisah Badui Sebelum Tidur Memaafkan Orang Lain

Suatu hari ketika di sebuah masjid Rosulullah bersama para sahabat selesai melaksanakan sholat, Beliau bersabda bahwa sebentar lagi akan datang seseorang yang dirindu surga.

Para sahabat pun menunggu-nunggu siapa yang akan datang. Tidak lama kemudian datanglah seseorang yang langsung sholat dan setelah selesai dia berlalu begitu saja.

Keesokan harinya Rosulullah mengatakan hal yang sama, lalu datanglah orang yang sama seperti kemarin. Kejadian ini berulang sampai 3 kali. Salah satu sahabat Rosulullah yang bernama Abdullah Bin Amr penasaran dengan amalan orang yang dirindu surga itu. Orang tersebut dari suku Badui, sebut saja namanya Fulan.

Rosulullah mengijinkan Abdullah Bin Amr untuk mengikuti Fulan dan mencari tau apa saja amalan Fulan sampai dia dirindu surga. Rasa penasaran yang terus menghantui Abdullah Bin Amr mengantar dia sampai ke rumah Fulan.

Setibanya dia di rumah Fulan dia mengetuk pintu dan Fulan membukakannya. Sahabat Abdullah Bin Amr mengatakan bahwa dia sedang ada masalah dengan orang tuanya sehingga dia minta ijin kepada Fulan untuk menginap di rumahnya selama 3 hari.

Si Fulan dari suku Badui ini tidak berfikir panjang dan langsung menerima Abdullah Bin Amr untuk menginap dirumahnya. Beliau menginap di rumah Fulan selama 3 hari untuk mengamati amalan yang membuat Fulan ini dirindu surga.

Amalan Si Fulan Dari Suku Badui

Selama 3 hari Abdullah Bin Amr mengamati semua gerak gerik Fulan, tapi dia tidak menemukan amalan khusus yang dilakukan Fulan.

Amalan yang dilakukan cenderung biasa saja, dan Abdullah Bin Amr merasa amalannya sama saja dengan dirinya.

Beliau merasa bingung kenapa dengan amalan yang biasa saja seperti itu Rosulullah sampai menyebutnya 3 kali bahwa dia akan masuk surga.

Setelah 3 hari berlalu, sebelum Abdullah Bin Amr berpamitan untuk pulang dia mengatakan yang sejujurnya kepada Fulan.

“Yaa Fulan, sebenarnya saya tidak memiliki masalah dengan orang tua ku, keluarga ku baik-baik saja,

tapi aku menginap di rumahmu karena aku penasaran dengan sabda Rosulullah yang mengatakan bahwa engkau adalah salah satu orang yang dirindu surga.

Sebenarnya apa amalan yang kau lakukan sampai engkau bisa dirindu surga?”

Si Badui menjawab pertanyaan Abdullah Bin Amr

“Aku memang tidak punya amalan atau ibadah yang istimewa, aku hanya tidak mempunyai rasa benci, iri, dengki kepada semua orang”

Yang pada intinya si Fulan ini sebelum tidur maafkan kesalahan orang orang yang ada disekitarnya, dia tidak benci dengan mereka. Sebelum tidur memaafkan orang lain. Mendengar jawaban Fulan, Abdullah Bin Amr segera pulang.

Hikmah Yang Bisa Diambil

Sahabat sebelumtidur.com bagaimana dengan kisah si Badui dan Abdullah Bin Amr tadi? Sudahkah kita memaafkan orang-orang yang ada di sekitar kita? Atau sekeras apa hati kita ini hingga tak mampu memaafkan kesalahan orang lain?

Dari kisah tersebut dapat diambil beberapa hikmah, diantaranya:

  • Rasa penasaran Abdullah Bin Amr

Rasa penasaran dari Abdullah Bin Amr yang juga merindukan surga dan ingin mengetahui lebih dalam tentang kebaikan yang bisa membawanya ke surga. Jadi kita boleh penasaran dan memenuhi rasa penasaran itu jika itu mengarah pada kebaikan.

Umat muslim memang diwajibkan untuk terus menuntut ilmu, seperti firman Allah SWT dalam surat Al-Mujadalah: 11

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”

  • Fulan adalah ahli masjid

Selama 3 hari dan mungkin juga lebih si Fulan ini datang ke masjid untuk melaksanakan sholat. Ini menandakan bahwa dia sering ke masjid untuk melaksanakan sholat. Rosulullah bersabda:

Apabila kalian di masjid lalu diseru shalat maka janganlah keluar salah seorang diantara kalian sampai dia shalat” H.R. Al-Fathur-Rabbani Tartib Musnad Al-Imam no. 297

  • Fulan selalu ber-khusnudzon

Ketika Abdullah Bin Amr mengatakan bahwa dia sedang ada masalah dengan orang tuanya, si Fulan tidak serta merta menanyakan masalah apa yang sedang menimpanya, dia hanya ber-khusnudzon untuk memberikan tempat menginap bagi Abdullah Bin Amr. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain…”

  • Fulan bukan orang yang berkata sesuatu yang sia-sia

Si Fulan ini mengatakan hal-hal yang penting saja dan tidak berkata ketika tidak ada yang perlu diucapkan. Jadi lebih baik kita menjaga lisan kita, ada yang mengatakan bahwa semakin banyak kita berbicara maka semakin banyak dosa yang kita perbuat, tentu saja jika yang dikatakan adalah suatu yang tidak benar. Sabda Rosulullah

Diantara tanda sempurnanya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat” H.R. Abu Hurairah

  • Fulan tidak memiliki rasa benci, iri, dan dengki dengan orang lain

Fulan mengatakan langsung pada Abdullah Bin Amr bahwa dia tidak memiliki rasa benci, iri, dan dengki dengan orang orang yang ada disekitarnya.

Sebelum tidur memaafkan orang lain dengan cara tidak menanamkan kebencian pada orang lain tersebut.

Sabda Rosulullah

Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memualiakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab; tentu.

Rasul pun bersabda; Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudian memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu.” H.R. Thabrani

 

Sumber : https://www.sebelumtidur.com/sebelum-tidur-memaafkan-orang-lain.html

0

Uwais Al Qarni, Pemuda Berbakti Kepada Orang Tuanya

Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji,” pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila.. Uwais gila…” kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya ibunya heran. Uwais menjawab, “Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga.”

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka’bah karena Rasullah SAW berpesan “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR. Bukhari dan Muslim)

CERITA KEHIDUPAN UWAIS AL QORNI

Pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.

Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.

Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do’a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do’a pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena Ketika Uwais Al-Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

Sumber : https://islampedia.id/uwais-al-qarni-pemuda-berbakti-kepada-orang-tuanya-85134289024f

0

Tegas Sama Diri Sendiri

Dalam hidup, kita pasti dihadapkan pada pilihan-pilihan. Kita bebas memilih mana yang menurut kita paling baik. Meskipun untuk menentukan keputusan itu terasa sangat sulit. Kita mau memilih pilihan A, resikonya begini. Pilih pilihan B resikonya begitu. Terkadang memperdulikan omongan orang, tapi membuat kita ga nyaman. Pernah di posisi seperti ini?. Semua orang pasti pernah mengalami.

Pepatah mengatakan, pengalaman adalah guru yang paling baik. Kita bisa ambil hikmah dari setiap kejadian. Baik yang dialami oleh sendiri maupun oleh orang lain di sekitar kita.

Dan ketika dihadapkan oleh pilihan yang membingungkan. Ikuti kata hati. Kita tahu bahwa hati itu tidak pernah berbohong. Sekuat tenaga kamu melawan, dari dalam lubuk hati terdalam pasti akan mengarahkan kita ke hal-hal yang baik. Bukankah fitrahnya kita di anugrahi hati yang perasa dan menuntun kita ke arah yang baik? Kita harus tegas sama diri sendiri.

Berhenti untuk berusaha menyenangkan semua orang. Karena apapun yang kita lakukan pasti ada saja yang tidak menyukai kita. Bukankah Nabi Muhammad SAW, seorang teladan yang memiliki budi pekerti mulia saja memiliki haters. Apalagi kita? manusia yang banyak berbuat kesalahan.

Kalau kita anggap pilihan kita itu baik, ya lanjutkan, kita aplikasikan. Untuk orang-orang yang tidak suka dengan pilihan kita, biarkan saja jangan terlalu diambil pusing. Jangan sampai kita ikut- ikutan terpengaruh dengan omongan mereka yang akan menyebabkan kerugian untuk diri kita sendiri dan juga orang lain. Integritas itu penting, komitmen, tanggung jawab pada posisi kita. Karena semua perbuatan akan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti.

Ketika kamu merasa orang-orang memusuhimu, menjelek-jelekan kamu karena pilihanmu tidak seperti pilihan mereka. Yang harus dilakukan, tetap pada prinsip kamu. Berdo’a meminta petujuk kepada Allah SWT Yang Maha Membolak-Balikan Hati. Tetap tenang tetap sabar. Tetap berlaku lemah lembut. Lemah lembut disini bukan berarti kamu lemah, tapi tetap tegas sama prinsip yang menurutmu baik. Maafkan. Balas dengan kebaikan. Insya Allah orang yang memusuhimu akan berbalik seperti teman setiamu.

*Masih belajar untuk tegas sama diri sendiri

Bandung, 19 Maret 2018 I  Dwita Ramdhini

0

Stop Comparing Yourself to Others

Mengukur diri dengan orang lain lebih banyak tidak adilnya, terutama kepada diri sendiri. Bahwa setiap manusia sudah diciptakan secara sempurna. Tidak perlu terlalu sering membanding-bandingkan hal-hal yang tidak penting kepada orang lain. Membandingkan kecantikan, membandingkan kepemilikan barang, membandingkan kepandaian. Semua dan setiap orang bergerak dengan jalan hidupnya masing-masing yang pasti berbeda.

Semua telah diposisikan dalam peranannya dalam hidup agar kehidupan menjadi seimbang. Ada yang menjadi dokter maka harus ada yang menjadi pasien, ada yang memiliki mobil maka akan ada tukang parkir. Ada yang lapar pasti ada penjual makanan. Semua bukanlah soal apa yang terlihat. Allah sendiri menilai dari ketaqwaan. Dari amal perbuatan.

Sementara manusia lebih sibuk mengukur-ukur harta dan kecantikan. Mengukur-ukur pekerjaan. Mengukur-ukur materi dan hal-hal lain tidak menjadikan apapun selain rasa iri.

📝 @kurniawan_gunadi

@oaktree_1910

Status
0

Pernah merasakan ketenangan, ketika mendapatkan ilmu baru? Demikianlah ilmu,menjadi pelita bagi orang-orang yang belum tahu. Menjadikan diri tertantang untuk menemui hal-hal yang belum di ketahui dan menyadarkan diri bahwa apa yang di dapat belum lah luas. Merendahlah wahai hati 🙂

S.F

0

Just go for it

1515260311020

Pernah merasa bahwa diri kamu selalu berada di belakang orang lain? Selalu susah buat maju dan menyusul mereka?

Sebenarnya terlalu gamblang kalau bicara tentang nasib, karena everybody knows kalau rezeki udah dijatah.

Buat kamu yang sudah mendapat apa yang kamu perjuangkan, selamat atas ikhtiar dan doa-doa yang terkabul.

Buat kamu yang lagi berjuang untuk mengejar pencapaian kamu, selamat, karena kamu sedang dikasih waktu sama Allah untuk menikmati indahnya berikhtiar dengan niat yang in syaa Allah mantap.

Buat kamu yang masih sedih, merasa buntu rezeki, nasibnya jelek, dll, stop! Hey, cmon! get up! Kamu ketinggalan satu langkah dari mereka yang sudah bangkit dari keterpurukannya. Mereka satu meter lebih cepat setiap detiknya untuk mengubah suasana kecewa dibanding kamu. Bukan saatnya lagi kamu merenungi kesan-kesan haru dari teman-teman kamu yang kebanyakan berisi “sabar yaa mungkin belum rezekinya, semangat teruss”. Di sini saya ngga menyalahkan siapa saja yang menyemangati teman seperjuangannya ketika mereka gagal, tapi plis, jangan kelamaan merenungi itu.

Nah, gimana caranya supaya bisa bangkit dari itu semua?

Mulailah berpositive thinking sama Allah. Jangan nyerah gitu aja dan malah berprinsip “let it flow”. Kamu harus banget menghadirkan Allah dalam hati. Selalu ingat Allah, bahwa bisa jadi Allah mau kasih kejutan. Pikiran positif yang seperti ini akan menaikkan mood kamu dan kamu lupa akan rasa sedihmu.

Belajar menikmati. Maksudnya, kamu harus bisa memaknai setiap hal yang terjadi. Nikmati setiap proses menuju pencapaian kamu. Jadikan batu kerikil yang kamu hadapin sebagai pelajaran. Jangan dikit-dikit ngeluh. Ada musibah dikit ngeluh. Hey, hasil yang besar ngga didapat dari males-malesan loh.

Dan satu lagi yang ngga kalah penting yaitu reset plan kamu yang belum tercapai.

Jangan lupa siapkan plan b, plan c dll utk mengantisipasi kemungkinan buruk yang terjadi. Misal, les setahun untuk mempersiapkan ujian masuk universitas di tahun berikutnya.

Dan yang paling utama adalah doa. Minta izin sama Allah untuk berjuang, minta restu sama orangtua, sering sering menyenangkan hati orang tua. In syaa Allah akan dibukakan jalan sama Allah.

Sholat lima waktu ontime, sholat sunnah seperti rawatib, hajat, dhuha, tahajud harus dijadikan rutinitas. Puasa sunnah ditelatenkan, tilawah qur’an, perbanyak sedekah, dll.

Bermanja-manjalah sama Allah, berdoa dengan suara lembut dan panggil Allah beserta Asmaul Husna-Nya, akhiri dengan sujud sambil memohon agar keinginanmu tercapai, biar tambah mantap kamu harus yakin doa kamu akan dikabulkan sama Allah.

-Kak Annisa-

#tipsntrik

#tanyakeuntehjasmine

#bageurbareng

4

Overview Petunjuk dalam Islam

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Berhubung masih momen tahun baru. yuk kita menata hidup kita dan membuat resolusi yang berlandaskan Al – Qur’an.

Kenapa harus Al-Qur’an?
Karena, kata Allah, Al-Qur’an adalah PETUNJUK yang memudahkan kehidupan manusia. Jadi, SEMUA SOLUSI kehidupan kita ada di Qur’an, mulai dari surah Al-Faatihah sampai An-Naas, mulai dari sebelum manusia lahir sampai kembali kepada Allah. Ada semua, Masya Allah!
Kalau kita mau keluarkan, tilawahi, dan praktekkan petunjuk ini dalam hidup, Allah jamin hidup kita MUDAH! (Cek QS. 2: 185)
Jadi kalau ada yang ngeluh hidupnya susah, yang salah itu bukan Allah, tapi kita aja yang nggak mau mempelajari petunjuk-Nya
FYI, kapan kehidupan manusia dimulai dan bisa menerapkan petunjuk dari Al-Qur’an?
Ada di QS. 7: 172, tafsirnya ada di hadits Arbain No. 4, yakni: sejak masih dalam kandungan umur 4 bulan, sampai nanti kembali lagi kepada Allah.
*****
Dirangkum dari kajian Ust. Adi Hidayat, Lc., MA
Tanggal 25 Desember 2017
Di Masjid Trans Studio Bandung
Link video rekaman kajian FULL: https://www.youtube.com/watch?v=LLsVHaGca9Q
Link video kajian singkat tambahan: https://www.youtube.com/watch?v=o_VFbwU-ya8
*****
Nah, overview nomor surah dan ayat Al-Qur’an mengenai petunjuk hidup tersebut kami coba jadikan ilustrasi berwarna, dengan harapan Al-Qur’an menjadi lebih menarik, at least, untuk dikepoin
Aplikasi yang dipakai: Adobe Illustrator
Sumber gambar: freepik.com
Editor: @hildayanaintan
Layouter: @hildayanaintan, @tasya p, @Sari P, @Ilmiasa S
Oh iya, ada beberapa nomor surah dan ayat yang perlu diralat:
– cara berbakti dan membahagiakan kedua orang tua –> QS. 46 : 15
– jika mulai pikun, ingat penciptaan –> QS. 22 : 5
– surga level ke-1 –> QS 3 : 31 dan QS. 4 : 69
Mohon maaf karena satu dan hal lainnya, dalam waktu dekat ini kami belum bisa mengeditnya kembali. Monggo kalau ada yang mau edit, feel free ^^
*****
Silakan disebarluaskan ya tanpa perlu izin. Mudah-mudahan semakin banyak orang yang bisa mendapatkan manfaatnya.
Jazakumullahu khayran katsiran.
Baarakallahu fiikum. 🙂

151506889067615150688933101515068895247151506889748615150688992331515068901026