Bagaimana ia tergantung siapa kamu

Sore itu, angin berhembus sejuk seperti biasanya. Menggugurkan daun-daun yang sudah menguning. Aku sibuk melahap kue sebelum perempuan berkerudung merah muda di hadapanku berbicara.

“Dek, tau ngga, pendidikan anak bukan dimulai sejak dini loh. Tapi semenjak laki-laki memilih perempuan untuk dijadikan istrinya,” ucap Juli, memulai pembicaraan sore itu.

“Kok gitu mbak? Berarti mereka pilih-pilih dong?” tanyaku, heran.

“Memang sudah kodratnya laki-laki untuk memilih. Dan kita sebagai perempuan yang menentukan; kita berhak menolak atau menerima.” Juli tersenyum, “kamu tau ngga dek, siapa yang jadi pusat kebahagiaan dalam rumah tangga?”

Aku memutar kedua bola mataku, berpikir. “Suaminya kan, mbak?”

Juli menggeleng pelan. “Perempuan; istri; ibu.”

Sunyi, aku menunggu Juli melanjutkan kalimatnya.

“Karena seorang anak sudah mempunyai hak bahkan sebelum ia dilahirkan ke dunia. Dia berhak lahir dari rahim perempuan yang baik. Maka, sudah menjadi kewajiban laki-laki untuk pandai memilih perempuan yang akan menjadi madrasah utama bagi anak-anaknya. Pun bagi perempuan, ia harus paham betul mana yang harus dipilih untuk menjadi ayah dari anak-anaknya kelak.

“Peran seorang perempuan itu ada dua dalam sebuah pernikahan. Pertama, ia akan mempengaruhi jadi apa suaminya kelak. Kedua, ia akan mempengaruhi bagaimana karakter anak-anaknya nanti. Bukankah tanaman yang baik akan lahir dari tanah yang baik?” tutur Juli, tegas tapi tepat mengenai hatiku.

Aku mengangguk, teringat perkaaan dosen di kelas kemarin bahwa fisik seorang anak kebanyakan ditentukan dari ayahnya, tapi kalau karakter itu dari ibunya. “Kalau gitu, aku bakal milih laki-laki yang wajahnya oke!”

Juli menggeleng-gelengkan kepala, kemudian kami tertawa pelan.

“Ada yang lebih penting dari wajah, Juni. Kamu harus mempertimbangkan gimana akhlaknya, apakah kakinya enteng untuk berjalan ke masjid. gimana sholatnya, gimana sunnahnya, gimana ia memperlakukan anak kecil, gimana ia bersikap sama perempuan yang bukan mahramnya. Pastinya bundamu ga mau kalau kamu jatuh pada laki-laki yang salah, kan?

“Ketahuilah, bahwa memilihkan calon yang tepat buatmu merupakan puncak prestasi dari orangtua dalam mendidik anaknya. Karena setelah menikah kamu akan seratus persen berbakti pada suami; ridhomu akan ada pada ridho suamimu. Dan tentunya, mereka yang sholeh juga akan pilih-pilih dalam mencari pendampingnya. Jadi jangan hanya bermimpi untuk mendapatkan yang sholeh sedang diri tidak ikut diperbaiki. Persiapkan dirimu sebaik mungkin, karena peranmu tidak main-main nantinya. Bukan untuk keluargamu saja, karena dari rahim perempuan yang baik juga akan membawa ke mana bangsa dan agama ini pergi.”

Aku termenung mendengar nasihat Juli yang begitu menohok hatiku.

“Bahkan Nabi Ibrahim yang begitu mendambakan anak, namun ketika sudah memilikinya, Allah perintahkan untuk menyembelih anaknya. Dan saat itu pula anaknya -Nabi Ismail- sama sekali ga takut dan ga gentar, karena telah tertanam dalam mental Nabi Ismail berkat didikan ibunya yaitu dari Siti Hajar.

“Mental istri Nabi Ibrahim pun udah terbentuk, terlihat saat Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan anaknya di gurun pasir seorang diri. Dan beliau ga protes setelah tau kalau itu adalah perintah dari Allah. Lihatlah, dek, keteguhan bunda Hajar dalam menerima ujian dari Allah,” lanjutnya.

“Kalau aku, pasti udah kebingungan dan banyak protes, mbak,” celetukku, membuat Juli tertawa.

“Coba bandingkan dengan anak Nabi Nuh ketika diajak naik kapal besar, tapi anaknya menolak dan lebih memilih pergi ke bukit bersama ibunya. Alhasil, istri dan anak Nabi Nuh pun tenggelam dalam banjir besar kala itu. Betapa besarnya peran perempuan dalam rumah tangga, kan?

“Jadi, ketika kamu nanti akan menikah, jangan hanya untuk dirimu sendiri, pastikan dia juga bisa berbuat baik pada anak-anakmu nanti. Akhlak seorang laki-laki itu bisa dilihat dari cara bagaimana dia memperlakukan perempuan. Akhlak seorang suami itu bisa dilihat dari bagaimana cara dia memperlakukan istrinya. Dan akhlak calon ayah bisa dilihat dari bagaimana seorang laki-laki memperlakukan anak kecil, Juni.”

Juli terdiam sejenak, kemudian menyomot kue milikku yang entah sejak kapan aku biarkan tergeletak di atas meja. Aku protes, menyuruhnya melanjutkan kalimatnya.

“Jadi, ada dua kriteria pasangan ideal di dalam islam secara umum yang dijelaskan oleh para ulama fiqh’. Yaitu kesholihan dan ketertarikan. Islam itu agama yang sesuai dengan fitrah. Fitrah yang Allah ciptakan, maka Allah yang paling tau bahwa laki-laki atau perempuan saling tertarik secara manusiawi, secara fisik, secara tabi’at dan Allah tidak menghilangkan unsur tersebut dalam pernikahan. Kita diharuskan untuk tertarik pada pasangan. Dan kedua unsur itu harus dipadukan,” ucap perempuan berlesung pipi itu, mengakhiri kalimat indah sore ini sambil tersenyum.

***

“Anak perempuan, saya akan memberimu dua pesan sebelum lulus :

  1. Anda harus memeriksa diri Anda setiap hari atau setiap minggu. Wajah saja di cermin. Lihat bayanganmu dan tanyakan pada dirimu sendiri. Apakah kamu masih menggunakan pakaian syar’i? Apakah kamu masih dekat dengan Quran? Apakah kamu masih sholat tepat waktu? Tanyakan saja pada diri sendiri karena kamu orang-orang (* wanita) jadi kamu harus dekat dengan (* cermin)
  2. Ingatlah! Kita hidup dua kali. Kehidupan pertama (sekarang) singkat tapi kehidupan kedua adalah kekal. Jadi, cari teman baik di kampus. Seorang teman yang bisa menuntunmu dekat dengan Allah.” dikutip dari Ustadz Fahamzah.

-ArumPuspa

#tipsntrik

#tanyakeuntehjasmine

#bageurbareng

1515261512429
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s