Masokis?

1515260988860
Kita sepakat bahwa urusan perasaan itu lucu. Kamu juga bilang padaku, bahwa urusan satu itu mirip rantai makanan: aku menyukai dia, dia menyukai tuan, tuan menyukai nona, nona suka yang lain.
.
Ini artinya, mungkin ada yang menyukaiku tapi aku tak menyukai dia, ini terjadi jika dan hanya jika aku tak ada di kasta terendah rantai makanan, katamu menambahkan.
.
Aku diam. Leluconmu tak mempan membuatku bersemangat menimpukmu seperti biasa.
.
Kamu masih tertawa, lalu prihatin melemparkan pertanyaan padaku, “sekarang coba, bagaimana mulanya sampai kita bisa tahan menyukai orang yang jelas-jelas ga suka sama kita?”
.
Pertanyaan bagus. Lebih bagus lagi karena kau bertanya padaku yang baru saja menghadapi penolakan. Mana ku tahu.
.
“Masokis!” katamu bersemangat, “mungkin kamu itu masokis”
.
Kamu menjelaskan, masokis adalah masalah kejiwaan, merasa (sebenarnya) senang saat disakiti. Aku masih diam, siapa pula yang akan senang saat ditolak dan disakiti? Gila.
.
Kamu menangkap kebingunganku, lalu mengambil kebiasaanku menyerbu segala makanan pedas sebagai contoh. Kamu bilang, itu salah satu indikator masokis.
.
“Apaan sih. Ga jelas banget.”
.
“Eh dengarlah dulu, kamu kan doyan banget makanan pedas dan selalu puas kalau bisa menghabiskan pedas dengan level tertentu. Nah tau ga, ada ilmuwan yang punya pendapat kalau sebenarnya rasa pedas itu ga ada. Rasa ya cuma manis, asin, pahit, asam.”
.
Selain karena sedang kehilangan semangat, aku masih diam karena tidak paham hubungan antara rasa pedas dan urusan hati.
.
“Gimana ya… Gini, sensasi pedas yang menjalar di lidah dan seluruh area mulut lebih mirip dengan rasa nyeri. Nah nyeri itu kan satu dari banyak rasa sakit. Sadar gak, semakin pedas, kamu justru makin penasaran. Semakin tinggi level pedas makananmu, kamu semakin semangat menghabiskannya, walau tahu akan meringis dan jontor bibirmu.
.
Gitu juga urusan perasaan. Setiap hari memproduksi prasangka, hari ini mengira dia menulis caption IG spesial ngode buatmu, esok mengira dia menolongmu karena suka, lusa mengira dia ramah hanya dan hanya padamu, setiap hari semakin bertumpuk prasangka yang kau ciptakan sendiri.
Lalu nekat memperhatikan media sosialnya, mencari jejaknya di manapun, dig more. Saat menemukan fotonya dengan teman yang lain atau melihatnya ramah kepada semua, kamu cemburu, ada rasa sakit, tapi kamu menikmatinya. Well, kamu mungkin mengelak menikmati itu haha, but deep inside, kamu merasa ini ga-sungguhan-mengganggu.
.
Bukannya taubat, kamu mengikuti rasa penasaranmu lagi, membuat prasangka dan sakit sendiri, begitu terus seperti labirin tanpa jalan keluar.
.
Tapi aku paham, namanya juga cinta, otakmu tumpul, logikamu mati, kamu hanya mengikuti rasa penasaranmu tanpa siap jatuh. Lagi pula, kamu butuh amunisi untuk membuat puisi, lagu dan sajak-sajakmu. Tak ada amunisi yang lebih baik selain patah hati. Semakin banyak luka, semakin bagus karyamu, bukan begitu?”
.
“HAHAHAHAHAH” aku hanya tertawa, sulit sekali berhenti. Ini tawa pertamaku sejak kemarin.
.
Pertama, karena kamu berlagak bukan main, lihatlah caramu menjelaskan, perlu kuingatkan siapa yang pekan lalu menangis karena alasan yang lebih cupu dari alasanku hari ini?
.
Kedua, entahlah, mungkin karena kamu benar tentang semuanya. Mungkin.
.
Kamu merapikan kerudung sambil tersenyum menang, “Semakin keras tawamu, aku makin tahu kalau aku benar. Tapi tenang, ada jenis cinta yang gak akan pernah bertepuk sebelah tangan”,
kamu melanjutkan,
.
“Cinta sama Allah! Kita mendekat sejengkal, Allah mendekat sehasta. Kita datang berjalan, Allah lari menyambut kita. Ga tau diri banget kalo kita masih menyia-nyiakan cinta level infinity macem ini”,
.
“Kecuali kalo emang kamu senang disiksa”, tandasmu, lagi-lagi sambil tertawa.
.
bulaeng 2017
.
#romance
#tanyakeuntehjasmine
#bageurbareng
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s