0

Just go for it

1515260311020

Pernah merasa bahwa diri kamu selalu berada di belakang orang lain? Selalu susah buat maju dan menyusul mereka?

Sebenarnya terlalu gamblang kalau bicara tentang nasib, karena everybody knows kalau rezeki udah dijatah.

Buat kamu yang sudah mendapat apa yang kamu perjuangkan, selamat atas ikhtiar dan doa-doa yang terkabul.

Buat kamu yang lagi berjuang untuk mengejar pencapaian kamu, selamat, karena kamu sedang dikasih waktu sama Allah untuk menikmati indahnya berikhtiar dengan niat yang in syaa Allah mantap.

Buat kamu yang masih sedih, merasa buntu rezeki, nasibnya jelek, dll, stop! Hey, cmon! get up! Kamu ketinggalan satu langkah dari mereka yang sudah bangkit dari keterpurukannya. Mereka satu meter lebih cepat setiap detiknya untuk mengubah suasana kecewa dibanding kamu. Bukan saatnya lagi kamu merenungi kesan-kesan haru dari teman-teman kamu yang kebanyakan berisi “sabar yaa mungkin belum rezekinya, semangat teruss”. Di sini saya ngga menyalahkan siapa saja yang menyemangati teman seperjuangannya ketika mereka gagal, tapi plis, jangan kelamaan merenungi itu.

Nah, gimana caranya supaya bisa bangkit dari itu semua?

Mulailah berpositive thinking sama Allah. Jangan nyerah gitu aja dan malah berprinsip “let it flow”. Kamu harus banget menghadirkan Allah dalam hati. Selalu ingat Allah, bahwa bisa jadi Allah mau kasih kejutan. Pikiran positif yang seperti ini akan menaikkan mood kamu dan kamu lupa akan rasa sedihmu.

Belajar menikmati. Maksudnya, kamu harus bisa memaknai setiap hal yang terjadi. Nikmati setiap proses menuju pencapaian kamu. Jadikan batu kerikil yang kamu hadapin sebagai pelajaran. Jangan dikit-dikit ngeluh. Ada musibah dikit ngeluh. Hey, hasil yang besar ngga didapat dari males-malesan loh.

Dan satu lagi yang ngga kalah penting yaitu reset plan kamu yang belum tercapai.

Jangan lupa siapkan plan b, plan c dll utk mengantisipasi kemungkinan buruk yang terjadi. Misal, les setahun untuk mempersiapkan ujian masuk universitas di tahun berikutnya.

Dan yang paling utama adalah doa. Minta izin sama Allah untuk berjuang, minta restu sama orangtua, sering sering menyenangkan hati orang tua. In syaa Allah akan dibukakan jalan sama Allah.

Sholat lima waktu ontime, sholat sunnah seperti rawatib, hajat, dhuha, tahajud harus dijadikan rutinitas. Puasa sunnah ditelatenkan, tilawah qur’an, perbanyak sedekah, dll.

Bermanja-manjalah sama Allah, berdoa dengan suara lembut dan panggil Allah beserta Asmaul Husna-Nya, akhiri dengan sujud sambil memohon agar keinginanmu tercapai, biar tambah mantap kamu harus yakin doa kamu akan dikabulkan sama Allah.

-Kak Annisa-

#tipsntrik

#tanyakeuntehjasmine

#bageurbareng

Iklan
0

Bagaimana ia tergantung siapa kamu

Sore itu, angin berhembus sejuk seperti biasanya. Menggugurkan daun-daun yang sudah menguning. Aku sibuk melahap kue sebelum perempuan berkerudung merah muda di hadapanku berbicara.

“Dek, tau ngga, pendidikan anak bukan dimulai sejak dini loh. Tapi semenjak laki-laki memilih perempuan untuk dijadikan istrinya,” ucap Juli, memulai pembicaraan sore itu.

“Kok gitu mbak? Berarti mereka pilih-pilih dong?” tanyaku, heran.

“Memang sudah kodratnya laki-laki untuk memilih. Dan kita sebagai perempuan yang menentukan; kita berhak menolak atau menerima.” Juli tersenyum, “kamu tau ngga dek, siapa yang jadi pusat kebahagiaan dalam rumah tangga?”

Aku memutar kedua bola mataku, berpikir. “Suaminya kan, mbak?”

Juli menggeleng pelan. “Perempuan; istri; ibu.”

Sunyi, aku menunggu Juli melanjutkan kalimatnya.

“Karena seorang anak sudah mempunyai hak bahkan sebelum ia dilahirkan ke dunia. Dia berhak lahir dari rahim perempuan yang baik. Maka, sudah menjadi kewajiban laki-laki untuk pandai memilih perempuan yang akan menjadi madrasah utama bagi anak-anaknya. Pun bagi perempuan, ia harus paham betul mana yang harus dipilih untuk menjadi ayah dari anak-anaknya kelak.

“Peran seorang perempuan itu ada dua dalam sebuah pernikahan. Pertama, ia akan mempengaruhi jadi apa suaminya kelak. Kedua, ia akan mempengaruhi bagaimana karakter anak-anaknya nanti. Bukankah tanaman yang baik akan lahir dari tanah yang baik?” tutur Juli, tegas tapi tepat mengenai hatiku.

Aku mengangguk, teringat perkaaan dosen di kelas kemarin bahwa fisik seorang anak kebanyakan ditentukan dari ayahnya, tapi kalau karakter itu dari ibunya. “Kalau gitu, aku bakal milih laki-laki yang wajahnya oke!”

Juli menggeleng-gelengkan kepala, kemudian kami tertawa pelan.

“Ada yang lebih penting dari wajah, Juni. Kamu harus mempertimbangkan gimana akhlaknya, apakah kakinya enteng untuk berjalan ke masjid. gimana sholatnya, gimana sunnahnya, gimana ia memperlakukan anak kecil, gimana ia bersikap sama perempuan yang bukan mahramnya. Pastinya bundamu ga mau kalau kamu jatuh pada laki-laki yang salah, kan?

“Ketahuilah, bahwa memilihkan calon yang tepat buatmu merupakan puncak prestasi dari orangtua dalam mendidik anaknya. Karena setelah menikah kamu akan seratus persen berbakti pada suami; ridhomu akan ada pada ridho suamimu. Dan tentunya, mereka yang sholeh juga akan pilih-pilih dalam mencari pendampingnya. Jadi jangan hanya bermimpi untuk mendapatkan yang sholeh sedang diri tidak ikut diperbaiki. Persiapkan dirimu sebaik mungkin, karena peranmu tidak main-main nantinya. Bukan untuk keluargamu saja, karena dari rahim perempuan yang baik juga akan membawa ke mana bangsa dan agama ini pergi.”

Aku termenung mendengar nasihat Juli yang begitu menohok hatiku.

“Bahkan Nabi Ibrahim yang begitu mendambakan anak, namun ketika sudah memilikinya, Allah perintahkan untuk menyembelih anaknya. Dan saat itu pula anaknya -Nabi Ismail- sama sekali ga takut dan ga gentar, karena telah tertanam dalam mental Nabi Ismail berkat didikan ibunya yaitu dari Siti Hajar.

“Mental istri Nabi Ibrahim pun udah terbentuk, terlihat saat Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan anaknya di gurun pasir seorang diri. Dan beliau ga protes setelah tau kalau itu adalah perintah dari Allah. Lihatlah, dek, keteguhan bunda Hajar dalam menerima ujian dari Allah,” lanjutnya.

“Kalau aku, pasti udah kebingungan dan banyak protes, mbak,” celetukku, membuat Juli tertawa.

“Coba bandingkan dengan anak Nabi Nuh ketika diajak naik kapal besar, tapi anaknya menolak dan lebih memilih pergi ke bukit bersama ibunya. Alhasil, istri dan anak Nabi Nuh pun tenggelam dalam banjir besar kala itu. Betapa besarnya peran perempuan dalam rumah tangga, kan?

“Jadi, ketika kamu nanti akan menikah, jangan hanya untuk dirimu sendiri, pastikan dia juga bisa berbuat baik pada anak-anakmu nanti. Akhlak seorang laki-laki itu bisa dilihat dari cara bagaimana dia memperlakukan perempuan. Akhlak seorang suami itu bisa dilihat dari bagaimana cara dia memperlakukan istrinya. Dan akhlak calon ayah bisa dilihat dari bagaimana seorang laki-laki memperlakukan anak kecil, Juni.”

Juli terdiam sejenak, kemudian menyomot kue milikku yang entah sejak kapan aku biarkan tergeletak di atas meja. Aku protes, menyuruhnya melanjutkan kalimatnya.

“Jadi, ada dua kriteria pasangan ideal di dalam islam secara umum yang dijelaskan oleh para ulama fiqh’. Yaitu kesholihan dan ketertarikan. Islam itu agama yang sesuai dengan fitrah. Fitrah yang Allah ciptakan, maka Allah yang paling tau bahwa laki-laki atau perempuan saling tertarik secara manusiawi, secara fisik, secara tabi’at dan Allah tidak menghilangkan unsur tersebut dalam pernikahan. Kita diharuskan untuk tertarik pada pasangan. Dan kedua unsur itu harus dipadukan,” ucap perempuan berlesung pipi itu, mengakhiri kalimat indah sore ini sambil tersenyum.

***

“Anak perempuan, saya akan memberimu dua pesan sebelum lulus :

  1. Anda harus memeriksa diri Anda setiap hari atau setiap minggu. Wajah saja di cermin. Lihat bayanganmu dan tanyakan pada dirimu sendiri. Apakah kamu masih menggunakan pakaian syar’i? Apakah kamu masih dekat dengan Quran? Apakah kamu masih sholat tepat waktu? Tanyakan saja pada diri sendiri karena kamu orang-orang (* wanita) jadi kamu harus dekat dengan (* cermin)
  2. Ingatlah! Kita hidup dua kali. Kehidupan pertama (sekarang) singkat tapi kehidupan kedua adalah kekal. Jadi, cari teman baik di kampus. Seorang teman yang bisa menuntunmu dekat dengan Allah.” dikutip dari Ustadz Fahamzah.

-ArumPuspa

#tipsntrik

#tanyakeuntehjasmine

#bageurbareng

1515261512429
0

Selalu ada pilihan

Nemu tulisan seperti ini di line rasanya ingin menertawakan diri sendiri,  wit sadar wit,  hhahaha. Su’udzon atau husnudzon. Masing2 punya pilihan sih untuk hal yang satu ini, Bersandiwara tidak peduli untuk segala sesuatu tentang dirinya memang menyakitkan. Semoga yang dipilih emg yang terbaik ya untuk seseorang nanti yang pantas membuka pintu hati.

Screenshot_2017-12-27-08-32-54-93

 

***

FB_IMG_1515259707801

Saat dia selalu mengirim chat, kamu berpikir bahwa kamu sedang dirindukan olehnya.

Saat dia memberimu hadiah, kamu berpikir dia menganggapmu spesial.

Saat dia membantu semua tugasmu, kamu berpikir dia rela melakukan apapun untukmu.

Dan apapun yang dia lakukan, kamu selalu sibuk berpikir untuk membuat dirimu sendiri bahagia.

Kamu sibuk dalam pikiran sesaatmu. Tenggelam dalam gemerlap angan-angan semu. Hingga mata, pikiran, dan hatimu yang sesungguhnya kamu sembunyikan jauh, tertutup oleh awan hitam yang kamu ciptakan.

Sadarlah, bahwa saat dia selalu hadir untukmu lewat semua chatnya, dia pun melakukan hal yang sama pada orang lain.

Saat dia memberimu hadiah, kamu bukan satu-satunya yang ia beri.

Saat dia membantu tugasmu, itu karena kamu adalah temannya.

Dan sadarlah bahwa dia tidak berpikir seperti yang kamu pikirkan.

Maka, jangan terlalu sibuk menyelam di lautan yang semu. Suatu saat kamu bisa tenggelam ke palung yang gelap, dan tidak mungkin kembali ke masa di mana kamu bisa saja memilih untuk tidak menyelam.

Maka, sibukkan pikiranmu hanya untuk cinta-Nya. Hingga di setiap hembusan nafas, lisan ini tidak berhenti menyebut kalimat cinta untuk-Nya.

Maka, kumohon jangan biarkan dirimu terlarut oleh angan palsu. Aku yakin, suatu saat kamu akan kecewa jika tahu bahwa dia tidak seperti yang kamu pikirkan.

Kamu selalu punya pilihan. Dan pilihlah yang tidak akan pernah membuatmu kecewa.

Bandung, 26 Agustus

-RFS-

#Romance

#tanyakeuntehjasmine

#bageurbareng